Jumat, 28 Maret 2014

Cara Pemasangan Atap Baja Ringan

 Cara Pemasangan Baja Ringan



Pada dasarnya Baja Ringan memakai 2 jenis Profil, yaitu Profil C (canal) dan Profil Reng. Profil C (Canal) berperan sebagai pengganti Kaso (kayu rangka) yang nantinya dirangkai menjadi Struktur Rangka Atap. Sedangkan Profil Reng dipasang diatas Rangka Atap tersebut, sebagai dudukan bagi Atap Penutup (seng atau genteng).
     
Cara merangkai Baja Ringan sebagai berikut:
1.  Rangka Atap Rabung 1 Komplit, yang akan dibuat seperti ini.



2.  Kuda-kuda Baja Ringan, dibuat terlebih dahulu. Caranya dapat dilihat dibawah (a, b, c).

        a.  Sambungan Atas Baja Ringan (Top Chord)


        b.  Tumpuan Baja Ringan pada Dinding/ Ring Balok (Pitching Point)


        c.  Skor Pengaku (web)


3.  Mendudukkan Baja Ringan pada Dinding (Ring Balok) memakai Bracket L, dipasang pada daerah Pitching Point. Produk Bracket L ada buatan Pabrikan, bisa juga dibentuk sendiri dengan menggunakanProfil C. Dipasang di Dinding/ Ring Balok menggunakan Dynabolt. 


4.  Memasang Reng Baja Ringan dengan Profil Reng, dipasang diatas Kuda-kuda Baja Ringan, dengan jarak pemasangan disesuaikan dengan Jenis Atap Penutup yang hendak dipakai.


5.  Memasang Lisplang, (bisa menggunakan Lisplang berbahan GRC atau Kayu)


6.  Memasang Atap Penutup, (bisa menggunakan Genteng Keramik, Genteng Batu, Genteng Metal, Seng, dan sebagainya)

Baja Ringan Bikin Proses Konstruksi Lebih Cepat dan mudah

JAKARTA, KOMPAS.com- Baja ringan sebagai material pembuat rumah semakin popular. Bahan yang terbukti lebih tahan terhadap goncangan gempa tersebut juga kian luas digunakan, tidak hanya untuk bangunan-bangunan "darurat" pasca bencana, namun juga untuk rumah-rumah mewah di kota besar.
 
Hanya, edukasi mengenai pemilihan baja ringan yang tepat belum tersosialisasi dengan maksimal. Masyarakat masih memilih dan berpendapat "asal" baja ringan, maka konstruksi akan menjadi kuat. Padahal, belum tentu semua produk baja ringan menawarkan kekuatan yang sama.

Country VP Corporate & External Affairs NS BlueScope Indonesia Lucia Karina mengatakan, berhati-hati memilih produk baja ringan sangat disarankan. Pasalnya, salah memilih produk, dapat menimbulkan kerugian besar. Tak hanya materi, juga non materi.
 
Secara umum, sifat baja ringan adalah ringan, kuat dalam sistem terintegrasi,memiliki struktur fleksibel dan mampu menghadapi getaran, serta tidak menjalarkan api. Keuntungan-keuntungan ini sebenarnya sudah cukup meyakinkan masyarakat untuk menggunakannya.

"Penggunaan baja ringan juga efektif dan efisien dalam biaya. Salah satunya, kemudahan dalam pengangkutan (transportasi), karena produk ini dikemas sedemikian rupa," ujar Lucia Kirana kepada Kompas.com, di Jakarta, Rabu (17/7/2013).
Bahkan, menurut Engineering and Development Manager dari NS Bluescope Lysaght Irosa Wahyudi baja ringan saat ini sudah bukan merupakan material alternatif, melainkan pilihan utama. Ada beberapa keuntungan utama yang bisa konsumen dapatkan bila menggunakan baja ringan.

Di antaranya; bila dibandingkan dengan rangka kayu, baja ringan tidak akan dihinggapi rayap. Selain itu, penggunaan baja ringan memungkinkan proses konstruksi sebuah bangunan lebih cepat ketimbang material konvensional. Karena produk baja ringan dirancang secara sistematis dan terkomputerisasi sesuai dengan perhitungan konstruksi bagian-bagian rumah dalam bentuk modul. Ada modul untuk dinding, ada pula untuk atap. Jadi para tukang tidak perlu repot membuat ukuran sendiri, tinggal mengikuti instruksi modul, baja ringan siap digunakan.

"Tentu, kekuatan baja ringan menghadapi iklim di sekitar lokasi pemasangan sangat tergantung tipe lapisannya," cetus Irosa.
 
Irosa mengingatkan, tidak kalah penting dari bahan baja ringan adalah detil pemasangan, terutama jika penggunaan baja ringan dimaksudkan untuk menghadapi gempa. Namun, jika pemilik rumah masih ragu dengan penggunaan baja ringan untuk seluruh bagian rumah, dan masih bersikeras menggunakan bata untuk perimeter rumah, maka hal tersebut dapat "diakali" dengan menggunakan sistem penyekatan rumah dengan baja ringan dan papan gipsum di dalamnya.
 
Meski demikian, Irosa mengakui masyarakat masih menganggap penggunaan baja ringan bisa  membengkakan biaya bangunan karena 15 persen lebih mahal ketimbang material biasa. Namun, jika dilihat secara keseluruhan, penggunaan baja ringan justru mampu menekan biaya karena fundamentalnya lebih murah.
 

Sebagai perbandingan, untuk pembangunan rumah di luar Pulau Jawa, tepatnya di Kalimantan, biaya yang harus dikeluarkan bagi rangka atap rumah berbahan baja ringan tanpa dinding (dinding menggunakan struktur bata) sebesar Rp 31 juta. Rumah tersebut berukuran 42 meter persegi. Dengan kata lain, kemungkinan besar harga di Pulau Jawa yang memiliki akses lebih mudah, bisa dapat ditekan lebih rendah.

Cari Blog Ini

Memuat...